Friday, May 7, 2010

SELAMAT HARI IBU


Saya ingin mengambil kesempatan untuk mengucapkan Selamat Hari Ibu kepada semua para ibu yang dikasihi. Wahai para ibu, engkau adalah kejadian terbaik di dalam peristiwa anak-anak di samping para bapa mithali. Tidak akan ada hadiah daripada anak-anak yang mampu menandingi pemberian daripada ibu- iaitu kehidupan. Bagi dunia, engkau hanyalah seorang insan yang biasa-biasa sahaja tetapi kami tidak akan pernah lupa tangan ibu jugalah yang mengoncang dunia.

Setiap kali kami cuba menyanyikan lagu ciptaan seniman Alayarham Sudirman 'Ayah dan Ibu' setiap kali itu jugalah kami tidak berdaya menghabiskan bait lagunya kerana air mata ini mengalir. Di dalam kegagalan kami sebagai anak-anak menyejukkan lembayungmu, ibu sentiasa dapat memahami apa yang kami anak-anak tidak dapat suarakan. Ini Sajak untuk ibu. Dengarkanlah kami wahai ibu...

Telah kau titiskan untuk kami
Tangisan luhur di pelupuk matamu
Tidak pernah gagal memadamkan perhatianmu
Dan kami pernah tidak mengerti dulu

Telah kau serukan suaramu
Nyaring amarah ke halwa rasa kami
Dari lubuk jiwa yang tidak pernah gagal
Menudungi kami dengan hikmah dan rahmat
Dan kami tidak pernah mengertinya dulu

Telah kau ajar tubuh ini dengan bilah rotan
Melibas hikmat dan didikan
Di antara simpati dan getar azam
Tidak pernah gagal mengasihani kami
Dan kami pernah tidak mengertinya dulu

Telah kau basuhkan lelah kami
Dengan bicara seperti sungai mengalir
Tumpah dari ulas getar bibirmu
Tidak pernah gagal mebisikkan pedoman
Dan kami pernah tidak mengerti dulu

Telah kau sembunyikan derita
Merebahkan lelah di sisi usiamu
Dan kau memilih membuang mengahmu
Jauh ke lubuk hati
Yang tidak pernah gagal memanjatkan doa
Dan kami tidak pernah mengerti dulu

Ibu,
Di antara sekian banyak kegagalan untuk mengerti
Maafkan kami.....
Anak-anakmu yang gagal melihat jalan didikanmu

Dan kini jiwa sesal mulai mengerti
Bahawa ibu selalu bersendirian
Memilih bersabar di ruang sunyi
Bertelut dengan wajah dan senyum murni
Bersiap diri dengan susun jemari yang tertib
Rupanya....
Lantai basah yang sering kami bersihkan dulu
Itu air mata ibu yang tumpah
Saat nyanyian doa melayang
Ke hadirat Sang Penghibur

Ibu,
Pandang kami dengan belas kasihan
Inilah anak-anakmu yang sudah besar
Dari luka nalurimu yang sarat menderita sabar
Izinkan kami bernaung di lembayung doamu selamanya
Agar kami dapat menyudahkan hidup kami
Anak-anak kami
Dan wajah-wajah masa depan
Hidup di hujung telunjuk restumu